Cermin Retak

Matahari membara. Mobilio biru metalik itu masih meliuk-liuk menghindari lubang-lubang jalanan. Atau mungkin rodanya berjingkat-jingkat memilih jalan yang agak hangat agar tidak lecet. Tiga orang yang berada di dalamnya masih tegak diam, meski cuaca di luar kontras. AC yang terpasang dalam setelan maksimum, membutakan keadaan yang sebenarnya.

Sekali waktu perwira wanita yang duduk di belakang membuka gawai, karena ada telphon atau pesan WA yang masuk. Mimiknya tampak dingin, berwibawa, dan tenang. Sebagai Kasatreskrim yang baru saja ditugaskan di kota itu, tugas lidik ini adalah yang pertama baginya. Sebetulnya ia tidak perlu susah payah turun ke lapangan, cukup staf yang melakukannya. Namun, sudah menjadi kebiasaan baginya untuk terjun langsung melakukan olah TKP dengan dibantu tim yang sudah ia bentuk.

Mobil memasuki areal hutan. Namun, masih banyak orang yang berada di areal tersebut. Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti. Perwira cantik itu keluar dengan anggun.

Seorang perwira pembantu segera mendekatinya. Memberikan laporan secara detail dan menyodorkan bendel berkas. Perwira cantik itu hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ia terus melangkah mendekati TKP. Ia mengamati dengan seksama situasinya. Di benaknya sedang membuat reka ulang kejadiannya, lalu meneliti laporan yang masuk. Ia mengambil kesimpulan sendiri. Ia serahkan bendel kertas ke perwira pendukungnya.

Kemudian, ia melangkah menuju ke mobil, dan memerintahkan sopir untuk menuju rumah sakit tempat korban dan pelaku dirawat.

Beberapa jam kemudian ….

Perwira muda itu terhenti di pintu. Ia memandangi lelaki yang terduduk pasrah dengan tangan terborgol di ranjang. Lelaki itu hanya terdiam dan tertunduk. Seketika nyali perwira cantik itu menciut. Ketegaran dan keberanian yang selama ini membuat pangkatnya cepat melejit, tiba-tiba menguap terserap di ruangan itu. Namun, ada dorongan kuat dari jiwanya untuk menghadapi lelaki itu.

Ia memerintahkan semua staf yang menjaga untuk keluar, dan menutup pintunya.

Giliran lelaki itu memandang ke arahnya. Di antara ketidakpercayaan pandangannya, tersisip juga perasaan muak dan kesal. Sepertinya, lelaki itu menyimpan sesuatu yang menyakitkan untuk diungkap. Lelaki itu bernama Bramanta, panggilannya Cungkring. Ia merupakan warga pendatang dari daerah lain. Tinggalnya di tengah hutan, bersama seorang anak perempuan berusia delapan tahun, dan ibunya yang baru saja meninggal tujuh hari yang lalu. Setelah semua hartanya ludes, dan masih menanggung hutang, ia pergi bersama anak dan ibunya berpindah-pindah tempat. Sebulan yang lalu, ketika ibunya sakit, ada cukong yang mencari kayu untuk keperluan pribadi. Cukong itu mau meminjami uang yang sangat besar untuk mendapatkan kayu yang diinginkan. Mereka sepakat, akhirnya Bram menjalin komunikasi dengan oknum sebuah institusi untuk lebih memuluskan semuanya. Namun, penyakit ibunya semakin parah dan tidak tertolong lagi. Setelah ibunya meninggal, giliran anaknya yang sakit keras, dan perlu operasi. Hanya saja, sang oknum meminta bagian lebih besar, padahal untuk operasional menyiapkan kayu juga perlu biaya tidak kecil, sementara pembeli kayu akan melunasinya jika pekerjaan sudah selesai sesuai perjanjian. Timbul perselisihan antara Bram dan oknum. Hampir saja Bram kalap jika tidak mengingat anaknya yang masih butuh operasi. Sang oknum memberi laporan palsu tentang penebangan hutan secara liar ke polisi hutan dan timbullah perkelahian yang tidak seimbang itu.

Perwira muda itu masih belum percaya dengan situasi saat itu.

“Kamu datang untuk menahanku? Silakan, aku tak akan melawan. Semoga saja masih ada orang yang mempercayai bualanku,” kata Bram dengan senyum kecut.

“Bisa kamu ceritakan menurut versimu?” tanya perwira muda itu.

Walau agak enggan, Bram mau juga menceritakannya. Setelah mendengar paparan Bram, gantian perwira muda itu termenung dengan mata berkaca-kaca.

“Anakmu?” tanya perwira muda itu lagi.

“Iya, hanya aku yang berhak memanggil dia dengan panggilan anak.” Bram tampak gusar.

Perwira muda itu mematung, beku. Hatinya seperti teriris mendengar hal itu. Ia tidak memungkiri, masih ada setitik harapan di hatinya untuk lelaki itu. Setitik harapan itulah yang membuatnya menolak beberapa lamaran lelaki lain. Dan memang, perwira muda itu pernah menikah dengan Bram, bahkan sampai saat ini masih berstatus istrinya. Hanya karena luasnya hubungan sang ayah, sehingga bisa memalsukan statusnya untuk mendaftar ke perwira polisi.

“Nad, maaf. Kalau boleh aku meminta, perkenankan aku menjenguk anakku …,” kata Bram memelas. Di antara wajahnya yang acak-acakan, masih tersisa ketampanannya.

Nadea berdiri, lalu melepaskan borgolnya. Tiba-tiba Bram memegang tangannya. Bergidik juga jika terjadi sesuatu, tetapi Nadea yakin, lelaki itu masih selembut ketika mereka masih bersama.

“Terima kasih …,” katanya sambil mengusap keringat di wajah dengan lengan bajunya.

Bram berdiri dengan borgol terlepas. Nadea mengikuti langkah Bram keluar kamar. Dengan tanda tertentu ia memberi perintah ke staf penjaga. Bram berjalan menuju ke suatu tempat diiringi Nadea. Beberapa orang mengangguk hormat padanya. Walau masih baru di kota itu, reputasinya sudah cukup dikenal oleh banyak orang.

Di sebuah pintu ruangan mereka berhenti. Ketika pintu dibuka Bram, Nadea hanya bisa berdiri terpaku di pintu. Sebagai seorang wanita yang pernah melahirkan seseorang, ia yakin, gadis kecil itu adalah anaknya. Hanya saja kaki jenjangnya sangat berat untuk mendekat ke arah anak itu.

“Ayah …, mengapa ayah lama sekali? Aku takut sendirian di kamar ini. Kita pulang saja, Yah. Walau Hapsari sakit, aku lebih senang berada di dekat ayah …,” kata-katanya membuat hati Nadea semakin pilu. Benar, dia yang memberi nama anak itu ketika baru dilahirkan. Bahkan sang dokter yang memberikan akte kelahiran membubuhkan nama orang tua adalah dirinya dan Bramanta.

Nadea hanya bisa menarik nafas dan menahan jerit tangis di hatinya.

“Ayah tidak akan meninggalkan aku lagi ‘kan?” tanya gadis kecil itu lagi.

Bram menoleh ke Nadea. Perwira muda itu hanya membeku. Di sela-sela kekalutan pikirannya, ia mengeluarkan gawai. Sejurus kemudian ia mengetik cukup lama di situ. Tak lama kemudian gawai itu berbunyi. Nadea bergeser ke tempat lain dan cukup lama ia berbicara dengan seseorang.

“Siapa tante polisi itu ayah?” anak itu kembali bertanya. Tangan kanannya yang dipasang selang infus, susah payah memegangi lengan ayahnya yang duduk jongkok di sampingnya. Sebagai pasien kelas III, fasilitas yang disediakan hanya seadanya.

Bram hanya mendesah lirih. Pikirannya juga sekacau pikiran Nadea. Sebentar lagi ia pasti akan menjalani proses investigasi di Polres. Sebetulnya ia tidak memulai perkelahian itu. Ia hanya mendorong pelan oknum itu. Sialnya. Sang oknum terhuyung-huyung terjatuh dan kakinya terantuk kayu. Setelah itu Bramanta hanya pasrah saja ketika beberapa polisi hutan membabi buta memukulinya.

Nadea melambaikan tangannya ke Bram. Lelaki itu mendekat. Ia berbisik cukup lama ke lelaki itu dengan sebentar-sebentar melirik ke gadis mungil yang masih tergolek di ranjang.

“Hanya itu yang bisa aku perbuat untuk kalian.” Polisi wanita itu melambai ke arah polisi-polisi yang lain. Mereka meninggalkan Bram yang masih termangu dengan berbagai pemikiran.

Hanya satu kalimat yang diingat Bram, “Sembuhkan anak kita, aku memberi batas waktu dua minggu, terserah kamu, setelah sembuh, temui aku di kantorku.”

Bram cepat bertindak, ia memberi kode supaya anak itu diam, perlahan-lahan ia melepas selang infus. Ia segera menggendong anak itu menuju koridor keluar dengan langkah tenang, agar tidak mencurigakan orang-orang yang dilewatinya. Beruntung, keduanya berhasil mencapai jalan raya.

Beberapa hari kemudian ….

“Begitu bodohnya kamu menjadi jaminan mereka, Nad!” kata papanya sambil menggebrak meja.

Baru kali ini ayahnya sedemikian marah. Namun Nadea tidak bergeming sedikitpun. Di sekitarnya banyak pasang mata melotot ke arahnya. Nadea tahu betul sikap kontra yang akan terjadi jika langkah itu dia ambil. Semua saudaranya pasti tidak ada yang membelanya. Namun, Nadea tetap bersikukuh dengan pilihan hatinya, sama seperti ketika dia memilih Bramanta sebagai suaminya.

“Ijinkan saya bicara, ayah ….” Suaranya lembut tetapi mengandung sugesti untuk mendiamkan semuanya. Sorot mata yang hadir di ruangan itu seolah menghakiminya.

“Berapa biaya yang keluarga ini keluarkan untuk pendidikan perwira Nadea? Silakan bikin coretan keuangan yang sudah terpakai, tentu harus ada validator yang bertanggung jawab.” Nadea menatap semua orang yang ada di ruangan itu.

“Saya tunggu sampai lima jam mendatang,” kata Nadea lagi.

“Saya tahu persis harga sawah dan tanah Mas Bram yang tergadai untuk membiayai saya. Saya juga paham betul nilai rumah orang tuanya Mas Bram yang terjual. Semuanya masuk ke rekening saya. Ketika menempuh pendidikan sampai ke Amerika, semuanya dari keluarga Mas Bram. Ketika pangkat sudah ada di pundak saya, kalian tertawa dan bangga, tanpa menunduk ke bawah, tanpa menoleh ke arah lain, siapa yang membiayai semuanya.” Nadea mulai gusar. Giliran papanya yang blingsatan.

“Ketika saya mencari keberadaan mereka, kalian semua menghalangi saya. Akhirnya Tuhan mendengar doa saya dan dipertemukan mereka.” Nadea berdiri dan melempar berkas ke meja utama.

Setelah itu Nadea keluar dan mengambil mobilnya. Mulai malam ini ia akan menginap di kantor, tidak akan pulang ke rumah lagi. Ia berharap tidak akan bertemu lagi dengan suami dan anak yang sangat dicintainya, meskipun uang jaminan empat puluh lima juta di rekening kas negara hilang. Apalah artinya uang segitu jika dibandingkan kebebasan orang-orang yang dia cintai. Justru uang keluarga Bram yang dia pakai melebihi dari itu. Lewat spion mobil itu Nadea berkaca, bagai cermin retak yang mencabik-cabik beberapa bagian jiwanya. 

Komentar

Postingan Populer